Minggu, 10 Agustus 2014

Kosa Kata Bahasa Aceh Berhubungan dengan Lingkungan Rumah

Diposkan oleh Khairul Baraah di 11.33
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Rumah : Rumoh
Pohon : Bak Kayee
Pintu : Pintoe
Teras : Seuramoe
Leun : Halaman
Atap : Buboeng
Kamar : Kama/bilek
Kursi : Kurusi
Meja : Meh/meja
Ranjang : Peuratah

Kasur : Kaso
Bantal : Bantai
Lemari : Mari
Lantai : Aleu
Dapur : Dapu
Kamar mandi : Kama manoe
Sumur : Moen

Kangen

Diposkan oleh Khairul Baraah di 10.56
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Pernahkah kamu mengalami fenomena kekangenan yang dahsyat?
Apa yang kau rasakan?

Kangen ada banyak. Ada kangen kangenan ada juga kangen benaran (versi gue). Kangen kangenan itu kayak abg yang lagi pacaran, baru jumpa 5 menit yang lalu udah bilang kangen lagi. Nah, kalo kangen benaran itu semisal kita dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Saat tiba masanya menghadap, kangen itu muncul dalam diri dan harus dipenuhi saat itu juga. Kalau tidak, tidak ada kenyamanan, ketenangan dan ketentraman dalam hidup seseorang tersebut. Kangen benaran juga terdapat antara orang tua dan anak atau suami-istri. Rasa kangen ini umumnya datang jika ada salah satu pihak yang berada jauh.

Nah, bagaimana dengan kangen terhadap orang yang sama sekali belum dikenal dan diketahui, tetapi ada posisi tertentu dalam lubuk hati sehingga membuat ia dikangenin? Itu kangen-kangenan atau kangen benaran?

Walah jangan tanya saya, saya pula sedang mencari jawabannya.

Rasa kangen itu macam-macam. Ada rasa nenas, jeruk, strobery, (apaan sih, serius dong!) Eh, ralat! Bukan kangen yang memiliki rasa yang bermacam-macam. Tetapi penderita kangen yang merasakan hal yang bermacam-macam saat kangen. Namun satu rasa yang tidak pernah berubah dari kangen ini, yaitu rasa ingin bertemu/berjumpa. Bumbu rasa lainnya bisa jadi rasa ingin menangis, rasa ingin curhat, rasa ingin lompat-lompat kegirangan, rasa ingin memeluk, rasa ingin makan, rasa ingin mendengar lagu melow, rasa galau, bahkan rasa ingin lompat dari gedung lantai 4. Aneh kan? Wahaha, semua rasa itu terkadang ngak realistis, tergantung jenis kangen apa yang dialami penderita. Penderita kangen benaran, terutama kepada Tuhan cenderung melakukan hal-hal positif. Kenapa? Karena dengan demikian ia merasa lebih dekat dengan-Nya.

Jadi, kesimpulan pembicaraan kurang penting tentang kekangenan ini berujung pada pesan, "Kangenilah selalu Allah dan orang-orang atau sesuatu yang pantas kamu kangenin. Karena kamu pasti tidak mau masa hidupmu terbuang percuma karena kekangenan yang sia-sia, kan?"



Rabu, 06 Agustus 2014

Jika Aku Mati...

Diposkan oleh Khairul Baraah di 09.32
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Sebenarnya, sudah lama ingin menulis tentang ini. Hanya sajaa... Ah, sudahlah...

Tulisan ini tertuju kepada diriku sendiri, keluarga, orang terdekat, sahabat, teman, tetangga, dan semua orang muslim yang ada di dunia ini, karena aku tak tahu di mana tanah tubuhku berasal, maka aku tak tahu dimanakah aku akan dikebumikan kelak. 

Jika aku mati nanti, apa yang kurasakan? Akankah perasaanku sama seperti saatku hidup? 

Jika aku mati nanti, 3 hal yang paling kutakutkan. Sakaratul maut, suul khatimah dan azab kubur. Yaa Allaaah, mudahkan segalanya, berikan aku husnul khatimah dan jauhkan aku dari azab kubur.

Senin, 30 Juni 2014

Spring in Sausan's Heart

Diposkan oleh Khairul Baraah di 08.51
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
“Sausan, tunggu!” seorang cowok tergopoh-gopoh mengejar Sausan sembari melambai-lambaikan sebuah buku. Sausan berbalik kea rah suara. Bukan seseorang yang kukenal, batinnya.
            “Ini, buku kamu ketinggalan di kantin kampus,” kata cowok itu. Sausan hanya tersenyum.
            “Terima kasih,” ungkap Sausan datar. Lalu menerima buku yang disodorkan cowok tersebut.
            “Nael. Aku Nael.”cowok itu memperkenalkan dirinya.

Kamis, 26 Juni 2014

Arti Teman Sebangku

Diposkan oleh Khairul Baraah di 06.44
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Begitu banyak teman sebangku di dunia ini, adakah kita mengenang mereka?
Mungkin sebagian orang berpikir, ia hanya sekedar teman sebangku. Sekedar. Ya, tapi bagiku mereka lebih dari itu. Mereka adalah sahabat, teman curhat, teman bermain, teman makan, teman bercanda, bahkan teman menangis. Siapapun mereka, ketika kita butuh sesuatu misalnya pulpen, orang pertama yang kita tanyakan dan mintai pulpennya adalah teman sebangku. Jarang kan, kita berjuang mati-matian manggil sahabat kita di pojok kelas hanya untuk pulpen sebatang. Itulah mengapa, arti dari teman sebangku itu lebih dari itu.
Aku akan memberi sebuah interpretasi amatir tentang seorang teman sebangku.
Ini dia!
……
Ia seperti sebuah buku
Saat kamu tidak paham akan sesuatu, padanya kamu menuju
Ia seperti lagu yang dinyanyikan
Kala kamu suntuk, ia datang mewarnai

Selasa, 24 Juni 2014

Rihlatul Usrah ke Pasir Putih

Diposkan oleh Khairul Baraah di 22.22
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Kami jalan-jalan akhirnya bareng kakak, abang, dan sepupu-sepupu. Seruuu, tujuan kami ke Pasir Putih Lhok Mee, ada di Krueng Raya, Aceh Besar. Perginya dengan sepeda motor. Dari Darussalam, kira-kira 1 jam perjalanan dengan kecepatan sedang. Naik tanjakan tinggi, turun turunan yang tidak landai, waaaah, rasanyaa itu, berjuta.

Jumat, 20 Juni 2014

Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi? Itu kan dulu...

Diposkan oleh Khairul Baraah di 20.13
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Assalamu'alaikum friends...
Kali ini aku bakalan bahas tentang sesuatu berbau dakwah. Ya, dakwah! Eits, tunggu dulu, jangan pikir dakwah itu hanya berdiri di atas mimbar dan menyeru kebaikan serta mencegah kebenaran. Dakwah ini lebih luas dari itu bro...

Well, para pendakwah. Siapa sih para pendakwah itu?
Pendakwah itu kamu, ya, kamu. #gayadodit
Siapapun, selama ia adalah seorah muslim, ia adalah pendakwah. Paling kecil, ia adalah da'i bagi diri sendiri dan keluarga.

Terus, pernah dengar yang namanya liqa atau halaqah? Itu lo, kelompok kecil yang di dalamnya ada seorang murabbi dan beberapa mutarabbi. Murabbi itu artinya pendidik, dan mutarabbi adalah peserta didik. Di dalam liqa/halaqah itu, kegiatan dakwah berlangsung. Para Murabbi menjadi da'i bagi mutarabbinya. Dan sesama mutarabbi juga menjadi da'i bagi temannya maupun murabbinya sendiri.

Banyak orang menyangka bahwa liqa/halaqah itu kayak mengajarkan aliran sesat gitu. Jadi kebiasaan kelompok-kelompok halaqah menjadi minder dan memilih tempat-tempat tersembunyi untuk melangsungkan halaqahnya. Dulu, halaqah ini pernah dilarang juga pada masa Soeharto berkuasa, bahkan sampai harus tersembunyi sekali. Tapi itu kan dulu yaaaa???

Sekarang?
Negara kita sudah ganti presiden, sudah demokratis sekali. Kita bisa berdakwah di mana-mana. Dimana-mana, bro. Jadi, tidak perlu lagi tuh, cari tempat yang tertutup gimana gitu untuk berdakwah, seolah dakwah itu hanya untuk kalangan sendiri saja. Sekarang sudah saatnya kita budayakan dakwah, kita gencarkan, kita jadikan ummat kita ummat terdidik melalui dakwah ini. Jangan menutup diri, karena ini adalah langkah yang baik, kenapa kita harus takut pada orang-orang yang menghalangi dakwah ini? Dengan syarat, sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah serta ikhlas. Semangat!
 

Diary Seorang Muslimah Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting