Senin, 24 Februari 2014

Dugho', Penganan Khas Aceh Saat Musim "Jak U Blang"

"Jak u blang" merupakan versi bahasa Aceh dari ungkapan "pergi ke sawah". Itu adalah ungkapan yang mengarah kepada kegiatan menanam, menyiangi dan memotong/memanen padi. Nah, semasa kegiatan ini berlangsunglah istilah kue dugho' (sebagian orang mengatakannya leugho' ) seringkali muncul. Kira-kira sejenis apa kue dugho' itu ya? Yuk, kita simak rasep serta cara bikinnya.
Bahan-bahan : 
Pisang wak/ pisang awak yang sudah matang
Beras ketan, boleh yang putih atau hitam. 
Kelapa parut, dicampur gula dan sedikit garam.
Garam secukupnya
Daun pisang muda

Selasa, 14 Januari 2014

Kosa Kata dan Ungkapan Bahasa Aceh: Perkenalan (Meuturi) / Vocabulary Acehnese About Introducing

Uloen/lon : Saya
Droen/droen neuh : Anda/kamu
Nan : nama
Asai : asal
Tinggai : tinggal/menetap
Keurija/buet  : pekerjaan


Soe nan droen? (Siapa nama Anda?)
Dipat droen neuh tinggai ? (Dimana Anda tinggal?)
Peu keurija/buet droen? (Apa pekerjaan Anda?)
Dari panee asai droen neuh? (Dari mana asal Anda?)
Nan lon ..... ( Nama saya .....)
Asai lon dari .... (Saya dari ....)
Lon tinggai di ... (Saya tinggal di....)
Buet lon guree bak sikula (Pekerjaan saya guru di sekolah)


Nama-nama pekerjaan :
Guru : Guree
Mengajar : Purunoe
Polisi : Polisi
Dokter : Doto
Berdagang : Meukat
Bertani : Meutani
Pegawai : Peugawee

Kamis, 05 Desember 2013

Legenda Paya Ni dan Secuil Cerita Masa Kecil

Apakah teman-teman pernah jalan-jalan ke Kabupaten Bireuen? Jika pernah, pasti teman-teman pernah melewati suatu kecamatan bernama Kuta Blang. Kecamatan ini terdengar asing memang, karena masih baru, hasil pemekaran dari Kecamatan Gandapura. Kalau dari Arah Banda Aceh, kecamatan ini terletak setelah Kecamatan Peusangan dan sebelum Kecamatan Gandapura. Lalu, ada apa ya dengan Kuta Blang? 

Kuta Blang merupakan tempat Ibu saya lahir dan dibesarkan oleh orang tuanya. Nyak Chik, begitu kami memanggil nenek kami dan Pon Nek adalah julukan untuk kakek. Seumur hidup saya belum pernah melihat kakek Pon Nek secara langsung dan seumur hidup pula saya tak pernah merasakan dimanja oleh seorang nenek. Nyak Chik telah renta saat saya beranjak kanak-kanak dan berselang beberapa tahun kemudian beliau menghadap Sang Khaliq. Beliau satu-satunya orang tua dari orang tua saya yang sempat saya lihat wajahnya. Sementara kakek-nenek yang lain, sudah lebih dulu dipanggil olehNya. Terkadang kangen dan terbayang sembari menebak-nebak bagaimana wajah mereka, lalu saya menyerah dan berdoa dalam hati, semoga suatu hari nanti setelah hisab, mereka akan menyapa saya dan berkata," Surprise, cucuku Bara-ah! Ini kami kakek nenekmu yang selalu kamu kangenin." Aaaaaaaaamiiiiiin 1000x1000 kali. 

Minggu, 01 Desember 2013

Amanah

Mengawali Desember 2013, ada banyak amanah baru yang akan kupikul, maksudku, mulai kupikul. Beberapa orang memercayaiku untuk menjadi seseorang yang bertanggung jawab dan mengayomi mereka. Baik, karena kupikir bahwa kali ini aku harus mencoba, yaa, kuterima saja, pastinya dengan banyak pertimbangan.

Tentu memikul amanah bukan perkara yang mudah, tapi jika ada yang percaya padamu, itu lain lagi. Dalam artian, kamu bukan memilih sendiri amanah itu, melainkan orang-orang yang memilihmu untuk memikul amanah itu atau dengan kata lain, mereka ingin kamu yang memikulnya. Tentu pula, mereka punya pertimbangan.

Baik, sebuah amanah bukan hanya urusan pikul-memikul, tetapi juga urusan hati. Menerima sebuah amanah seperti menerima buah durian dengan kulit-kulitnya. Artinya, kamu tak hanya bertanggung jawab terhadap tugas itu, tetapi juga bertanggung jawab atas resiko kegagalannya. Begitulah kenyataannya. Namun, jika sebuah amanah itu kita tolak, itu bagai makan buah simalakama. Diterima, berat di kita, tidak diterima, juga berat di kita. Maksudnya, jika kita tidak menerima, rasanya bagai sampah tak berguna yang tidak bisa apa-apa.

Namun, meskipun demikian, tak berarti bahwa aku tak ikhlas dengan amanah yang diberikan sekarang. Bukan itu. Ini pertanda bahwa sebuah amanah itu tidak bisa kita main-mainkan sesuka hati, alias harus benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Sebuah amanah yang tidak bisa dijalankan sama dengan mencelupkan diri ke genangan lumpur bernama 'pembual'. Ih, sedihnya, gak mau-gak mau. Bisanya cuma ngomong tetapi realisasi tidak ada.

Satu hal lagi, bertanggung jawab, memegang amanah, adalah perbuatan mulia, berpahala. Ada plusnya. Satu, dapat pahala sudah jelas. Dua, dapat derajat  di mata orang lain. Wuiiih, apa ngak keren tuuu... Heeee, tapi, ingat-ingat, Innamal a'malu bin niat. Setiap pekerjaan itu didasarkan pada niat. Niatnya jangan untuk dapat derajat yaaa, tapi niatnya lillaahi ta'alaa. Siiiip? Kalau niatnya dah bagus, pasti deh, pahala sama pamor ngikutin sendiri di belakang.

Jadi, kesimpulannya apa?
Mudah saja. Baraah, jadilah orang yang bertanggung jawab atas amanah-amanah yang sedang kamu pegang sekarang dan selama beberapa waktu ke depan. Jangan jadi pengecut, jangan jadi lemah, jangan goyah, berjuanglah, pantang menyerah, luruskan niat, dan mintalah petunjuk pada Allah! Semangat!

NB : catatan ini kubuat untuk jaga-jaga, kalau-kalau nanti aku ingin berhenti di tengah jalan, aku bisa membaca tulisan ini dan mereformasi semangatku kembali... :)

Senin, 25 November 2013

Coretan Hari Guru : Mengapa Menjadi Guru?

Guru. Ya, sebuah titel sederhana bagi mereka yang bekerja mengajarkan orang lain tentang sesuatu, apapun. Biasanya di lembaga atau institusi tertentu. Mereka berkutat dengan buku-buku, papan tulis, spidol/kapur, setumpuk materi dan tentu saja, anak-anak didik yang tingkahnya bermacam-macam. Saban hari, berdiri di depan kelas, menjelaskan ini itu yang ia kuasai. Di sudut lain, ia berdiri di pojok kelas menuntun tangan seorang anak yang baru belajar menulis huruf A. Di sisi lain lagi, ia duduk di ruang bimbingan dan berceramah panjang lebar tentang pentingnya belajar dan beradap bagi anak-anak bandel. Di sisi lain lagi, merekalah orang-orang yang pertama kali bertanya, "Apa cita-citamu?" Lalu memberikan dorongan-dorongan supaya cita-cita itu tercapai. Mulia, bukan?

Lalu, kecerdasan bangsa, yang semenjak dahulu menjadi impian nasional bangsa Indonesia ada di tangannya, ada pada pemikirannya, ada pada kata-kata yang ia keluarkan. Mengapa? Karena melalui merekalah ilmu-ilmu mengalir, masuk ke dalam benak-benak generasi muda, dicerna lalu kemudian menjadi pengetahuan-pengetahuan baru yang hebat. Super, bukan?

Hal lain yang membuat mereka istimewa adalah karena mereka tak hanya mentransfer ilmu, tetapi jua mentransfer nilai. Kedisiplinan, kerja keras, pantang menyerah, akhlak, wibawa, dan semua yang baik-baik. Keren, bukan?

Itulah mengapa seorang guru menjadi guru. Kemuliaan itu, kesuperan itu dan kekerenan itu membuat ia teguh pada prinsipnya untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat.

Selamat Hari Guru, untuk Guru seluruh Indonesia dan dunia. 

Kamis, 21 November 2013

Munajat Cinta

Yaa Allah,
Jika cinta adalah ikatan
Maka ikatlah aku pada cinta suciMu
Agar aku tak lepas kendali pada cinta selain cintaMu

Yaa Rahman,
Jika cinta adalah sebuah bahtera

Kamis, 24 Oktober 2013

Buah Granat

Ayah selalu punya surprise untuk kami. Salah satunya surprise yang isinya buah granat. Buah granat??? (kabuuuuuur)
Eits, jangan salah sangka dulu. Yuk, simak cerita selangkapnya.


Jreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng!!

"Bangun, Nak! Bangun. Ada buah granat," bisik Ayah pelan. Aku membuka mataku dengan malas. Ah, Ayah, ini kan belum pagi. Ujung mataku menangkap kegelapan di ventilasi rumah. Tak hanya aku, Kak Bit, dan Asra juga. Mereka mengucek mata, masih belum sepenuhnya sadar. Sekali lagi, Ayah berbisik, "Cepatlah bangun! Buah granat menunggu, tuh!" Lalu ia pergi menepi ke dekat dinding. Ada piring dan pisau di depannya.