Tampilkan postingan dengan label Serial "Cinta Ayah". Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial "Cinta Ayah". Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Oktober 2013

Buah Granat

Ayah selalu punya surprise untuk kami. Salah satunya surprise yang isinya buah granat. Buah granat??? (kabuuuuuur)
Eits, jangan salah sangka dulu. Yuk, simak cerita selangkapnya.


Jreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng!!

"Bangun, Nak! Bangun. Ada buah granat," bisik Ayah pelan. Aku membuka mataku dengan malas. Ah, Ayah, ini kan belum pagi. Ujung mataku menangkap kegelapan di ventilasi rumah. Tak hanya aku, Kak Bit, dan Asra juga. Mereka mengucek mata, masih belum sepenuhnya sadar. Sekali lagi, Ayah berbisik, "Cepatlah bangun! Buah granat menunggu, tuh!" Lalu ia pergi menepi ke dekat dinding. Ada piring dan pisau di depannya.

Ayah, Syukran dan Afwan

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih dan perih
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Bait puisi "Aku" karya Chairil Anwar acap kali mengalun di sela dua bibirnya.