Suatu hari.
Dari
kejauhan mataku kehijauan memandang deretan semangka. Menggoda banget, apalagi
kalo cuaca lagi panas. Dengan wajah sumringah, kuhampiri si penjual semangka
yang lagi asik mengipasi diri dengan handuk good morning-nya.
“Bang,
semangka berapa sekilo?” tanyaku.
“Empat ribu
lima ratus, Dek Noeng,” jawab si abang. Aku jadi sedikit lesu.
“Mahal amat
bang. Bukannya dua ribu lima ratus, kemarin itu harganya segitu,” tawarku.
“Waah, ngak
lah Dek. Sekarang semangka lagi langka. Yang non biji aja udah enam ribu lima
ratus perak Dek sekilonya,” bantah si abang.
Idih! Kita
kan ngak tanya yang non biji yaa? Gak sanggup beli T_T
Akhirnya
setelah memilih-milih, aku mengambil semangka yang beratnya 4 kg untuk kubawa pulang. Well, aku yakin
isinya pasti merah, secara semangkanya gede gitu loh.
Sesampainya
di rumah. Kubelah semangka dengan hati-hati. “Hai, apa kabar?” daging semangka
menyapaku. Huaaaa! Ternyata isinya pink muda saudara-saudara, bukan merah apa
lagi merah tua. Aku kecewa. Sangat. Meski akhirnya kutelan jua sekalian dengan
rasa kecewa itu. Dramatis amat yaa?

